Krisis Pangan ..Mengancam kah ?

Posted: Mei 15, 2008 in nasionalisme

Dijiplak dari Rahmad Nasution

—Tragedi kelaparan dan gizi buruk yang melanda rakyat Darfur, Sudan, selama bertahun-tahun telah menyisakan perih kemanusiaan yang mendalam.

Namun kelaparan yang dialami rakyat Darfur itu kini juga berpotensi mengancam rakyat miskin di banyak negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia.

Bayang-bayang ancaman kelaparan tampak semakin nyata, sebagaimana ditunjukkan oleh melonjaknya harga beras dan minyak bumi dunia.

Untuk menekan gejolak harga minyak dunia yang sudah menembus angka 117 dolar Amerika Serikat (AS) per barel itu, sejumlah negara dikabarkan telah mengonversi produksi pertanian mereka untuk keperluan bahan bakar nabati (bio-fuel).

Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) 14 Februari 2008 memperkirakan kenaikan jumlah orang yang terancam kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen kenaikan harga bahan pangan pokok dunia.

Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025. Jumlah ini lebih tinggi 600 juta orang dari perkiraan sebelumnya.

Di Indonesia, jumlah orang miskin juga tidak sedikit. Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat jumlah mereka yang hidup bawah garis kemiskinan hingga Maret 2007 mencapai 37,17 juta orang.

Kisah-kisah di seputar kondisi kehidupan kaum papa yang mengenaskan di Indonesia sudah bukan lagi berita baru bagi publik di negeri yang mendapat julukan “gemah ripah loh jinawi” ini.

Kisah anak-anak Indonesia di bawah lima tahun (balita) yang kurus kering akibat busung lapar dan gizi buruk akut misalnya sudah kerap menghiasi pemberitaan media massa sejak era reformasi.

Bahkan, akhir Februari lalu, Nyonya Dg Basse (27), yang sedang hamil tua, dan putranya bernama Bahir (5) meninggal dunia akibat tidak makan selama beberapa hari karena kemiskinan akut yang membalut kehidupan anak-beranak yang tinggal di Jalan Daeng Tata I Makassar, Sulawesi Selatan ini.

Kemiskinan akut yang sampai merenggut nyawa Basse dan putranya ini hanyalah sebuah fenomena gunung es kaum papa di Tanah Air terlebih lagi di tengah krisis pangan dan energi yang melanda dunia saat ini karena Indonesia tidak akan mampu menghindari dari dampak berantai kondisi global ini.

Dalam masalah beras yang menjadi makanan pokok banyak bangsa di dunia, seperti China dan Indonesia, Departemen Pertanian Amerika Serikat memperkirakan bahwa pada 2007-2008, stok beras dunia hanya mencapai 72 juta ton. Jumlah ini terendah sejak 1983-1984 atau hanya separuh dari hasil panen puncak tahun 2000-2001.

Stok beras dunia yang hanya separuhnya hasil panen tahun 2000-2001 itu justru terjadi di tengah melonjaknya harga beras dan minyak bumi dunia yang sudah menyentuh angka 113 dolar AS per barel.

Harga beras di pasar dunia pun sudah tidak lagi murah. Portal Bisnis dan Keuangan Irlandia, “Finfacts”, edisi 18 April 2008, menyebutkan, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s